
23 Mei 2021 Fenomena Bulan Baru
Berdasarkan Wikipedia.org bulan baru memiliki sebutan lain yaitu bulan mati. Atau di dalam astronomi memiliki pengertian yaitu fase bulan pertama yang terjadi pada saat bulan kurang lebih terletak pada satu garis lurus di antara matahari dan bumi. Kemudian, mengapa dapat dikatakan bulan mati? Hal ini dikarenakan seluruh permukaan bulan disinari matahari adalah bagian belakangnya, sedangkan pada bumi yang hanya terlihat adalah bagian yang tidak disinari matahari. Walaupun demikian, fase ini merupakan waktu terbaik untuk mengamati gugusan bintang di langit malam.
Seperti yang dijelaskan pada pikiran-pikiran rakyat.com fenomena ini akan terjadi pada pukul 00.39 UTC atau pukul 07.39 WIB (08.39 WITA; 09.39 WIT).
Dilansir dari sains.lapan.go.id fase bulan baru tidak hanya dapat terjadi pada satu hari saja. Terkadang fase ini dapat terjadi pada dua sampai tiga hari berturut-turut. Hal ini disebabkan oleh adanya daya resolusi atau daya urai. Ditambah lagi dengan kondisi gelap yang mengakibatkan pupil melebar menjadi 4-8 mm daripada kondisi normalnya 2-4 mm. Tentu hal ini masuk akal mengingat ketika bulan berada pada titik terjauh bumi, sudut diameter bulan lebih kecil dibandingkan dengan bumi sehingga sudut resolusinya sama.
Sudut resolusi dapat dinyatakan sebagai fraksi iluminasi, yaitu perbandingan antara luas piringan bulan bercahaya ketika menghadap bumi dengan lebar piringan bulan. Apabila puncak bulan baru terjadi pada tengah malam, maka iluminasi bulan dapat dicapai ketika bulan terbenam dan setelah puncak bulan baru. Sehingga bulan baru terhitung terjadi selama tiga hari berturut-turut. Sedangkan apabila puncak bulan baru pada tengah hari, maka iluminasi bulan dapat dicapai ketika bulan terbenam dan setelah bulan terbit. Sehingga bulan baru terhitung terjadi selama dua hari berturut-turut.
26 Mei 2021 Fenomena Super Blood Moon
Bersumber dari kompas.com fenomena gerhana bulan dapat terjadi apabila posisi matahari, bumi, dan bulan sejajar sehingga masuk pada bagian umbra bumi. Sehingga cahaya matahari terhalang oleh bumi, menyebabkan tidak semua cahaya matahari sampai ke bulan. Kemudian, kenapa masyarakat memanggilnya “Super Moon”? Hal ini dikarenakan sebagai penanda bulan yang berada pada titik terdekat dengan bumi. Dan di bumi sendiri terlihat begitu besar dan cerah.
Dari mana asal kata “blood” bermunculan? Kata “blood” menandakan warna yang didapatkan oleh bulan ketika berada pada fase puncaknya. Warna tersebut adalah warna merah. Karena pada prosesnya, bulan berada di umbra bumi ketika puncak gerhana bulan total terjadi, bulan akan terlihat berwarna merah.
Dilansir dari detik.com “Super Blood Moon” merupakan sebutan fenomena langka yang hanya terjadi 195 tahun sekali. Fenomena ini dapat dicap sebagai fenomena langka karena masa terjadinya memiliki rentan yang begitu lama. Dan dapat terjadi kembali pada 21 Mei 2199 dan 16 Mei 2394.
Di Indonesia sendiri, gerhana bulan total atau Super Blood Moon melewati tujuh fase, yaitu
1. Fase awal gerhana bulan pada pukul 15.46 WIB 16.46 WITA 17.46 WIT
2. Fase gerhana bulan pada pukul 16.44 WIB 17.44 WITA 18.44 WIT
3. Fase gerhana bulan total pada pukul 18.09 WIB 19.09 WITA 20.09 WIT
4. Fase puncak gerhana bulan total pada pukul 18.18 WIB 19.18 WITA 20.18 WIT
5. Fase gehana bulan total berakhir pada pukul 18.28 WIB 19.28 WITA 20.28 WIT
6. Fase gerhana bulan sebagian berakhir pada pukul 19.52 WIB 20.52 WITA 21.52 WIT
7. Fase gerhana bulan berakhir pada pukul 20.51 WIB 21.51 WITA 22.51 WIT
28 Mei 2021 Fenomena Matahari di atas Ka’bah
Dilansir dari kompas.com matahari berada di atas Ka’bah merupakan kondisi di mana matahari berada di posisi berkedudukan tapat melintas di lintang Ka’bah yakni 21 derajat LU (25 menit) dalam gerak semu tahunan matahari. Kemudian, disaat yang bersamaan matahari sedang melintasi garis meridian Ka’bah pada koordinat 39 derajat BT (50 menit) yang dikenal dengan titik zenith (titik dengan tinggi 90 derajat dari semua arah).
Dengan kedudukan bulan dan matahari tepat berada pada titik ini, maka sinar matahari akan membuat benda yang berdiri tegak akan kehilangan baying-bayangnya. Adapun, jika kita berdiri di Kota Makkah pada saat hal ini terjadi, maka bayang-bayang kita akan menghilang pada jam tersebut. Dengan demikian, fenomena yang terjadi ini dapat menjadi momen untuk menentukan arah kiblat. Arah kiblat merupakan acuan bagi umat muslim untuk menghadap saat beribdah. Terhitung secara turun-temurun momen ini adalah metode paling akurat dan efisien dalam menentukan arah kiblat di suatu tempat karena tinggal menyesuaikan bayangan benda.
Cara mengecek kembali arah kiblat menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG):
1. Sesuaikan aturan jam
à Sesuaikan jam yang digunakan adalah jam atom BMKG.
2. Siapkan benda tegak lurus
à Alat yang digunakan dapat berupa bandul, tiang, atau dinding bangunan
yang tegak lurus dengan tanah datar.
3. Lakukan kalibrasi
à Waktu melakukan proses kalibrasi adalah ketika 5 menit sebelum dan
5 menit sesudah waktu puncak.
4. Perhatikan arah bayangan
à Tarik garis dari ujung bayangan hingga ke posisi alat.
Garis itulah arah kiblat yang sudah dikalibrasi dengan posisi matahari di atas Ka’bah.